Banner
Setelah Etalase terjual menjadi tukang parkir
This is my site Written by el masarif on January 31, 2009 – 12:08 pm

Byuh… rame situasi pikiran di benak saya. Keinginan menulis untuk melakukan rutinitas posting jadi terhambat gara-gara ramainya situasi dan kondisi pikiran. Apa yang harus saya tulis?? Beneran, itu adalah pertanyaan saya sekarang ini. Kisah tentang “sok heroic” dengan memikirkan keberlangsungan global crisis, domestic crisis akibat terkena ‘semilir’ krisisnya Amerika, atau krisis pribadi? Terpikir juga tentang email seorang sahabat, kakak, guru, (semuanya dalam satu pribadi) P Supriyanto yang kini tengah menjalani study S3nya di Australia. Yang saya maksud adalah kabar terakhir mengenai kegiatan barunya berdakwah di Brasbane, berbaur dengan pejuang-pejuang da’wah menyeru kepada kebaikan sembari keep study.

Sek… sebelumnya tadi saya sudah kadung membuat judul, setelah etalase terjual menjadi tukang parkir. He he.. krisis itu tidak saja disana! tapi disini, disono, sunu dan sene. Di situ jugakah? Yap, bagaimana tidak disebut krisis kalau sampai etalase terjual? La wong sebelum etalase terjual isinya sudah lebih dulu ludes :D

Seringkali sesuatu yang terjadi pada saya pada suatu waktu saya jadikan sebagai momentum perubahan. Sama halnya saat saya pamit undur dari SMK Darul Ulum, berbarengan keberadaan saya di titik zero dan melangkah meminjam kepada kakak ipar di Surabaya sejumlah uang untuk permodalan kemudian membuka usaha dibidang komputer services di poros jalan sumberberas. Saya tidak mulai dari nol! tapi minus :)

Lama saya berazzam untuk total terjun di dunia online. Satu persatu atribut yang saya kenakan saya tanggalkan. Salah satunya dengan pekewuh saya berpamitan meninggalkan SMA Al-Hikmah muncar yang di motori P Supriyanto. Saya lupa pembicaraan completenya, yang saya ingat adalah, “mohon dukungannya” (O alah, mung satu kalimat ini ternyata)

Setelah satu dan dua saya tanggalkan, mulailah saya berpikir aneh, “Hm.. saya harus mengurangi jumlah komputer yang ada ini sehingga menjadi satu atau dua saja yang saya gunakan untuk Full online, nantinya.” Bak gayung bersambut, keinginan itu bagaikan doa, terdapat serombongan tikus yang menari sehingga jadilah komputer saya tinggal satu.

Salah perhitungan atau salah perkiraan?

Seperti dukungan para sahabat di posting sebelum ini, insyallah saya tidak patah semangat. Putus asa adalah dosa. Saat ini saya sedang menyiapkan etalase online dan menjadi juru parkir di sedo. Masih blajaran dan otak-atik bagaimana menjadi tukang parkir yang handal. Barusan saya melirik earning masih 0,48 euro (jauh dari para master yang sehari bisa dapat puluhan euro) itupun sudah termasuk beberapa domain yang saya parkir. Mau ikutan beli ebook yang di jual master Seodude tidak mampu, masih kemahalan bagi saya.

Posted in  

2 Responses to “Setelah Etalase terjual menjadi tukang parkir”

  1. saiful hadi says:

    salam kenal dari mahasiswa UIN malang alumni sma al hikmah

  2. admin says:

    masih ingat saya :)
    Alhamdulillah, gimana kabare pul?

Leave a Reply