Written by el masarif on July 24, 2008 – 7:01 pm
Entah dimulai sejak kapan penarikan biaya lebih dibebankan kepada si ‘penerima’ surat atau paket pos. Yang jelas waktu saya kecil sampai saya punya si kecil sekarang ini, saya masih menikmati penarikan lebih tersebut. Mungkin karena sudah jadi budaya. Tidak lengkap rasanya tanpa penarikan itu. Layaknya ketika lewat bilang, “amit, mas!” “nuwun sewu” “permisi” Tidak ada satu orang-PUN di lingkungan saya untuk cuba bertanya (tanya) benarkah cara seperti ini?
Wah mas.. mereka orang pondokan yang perlu menghidupi keluarga dan penghidupan yang layak. Satu-satunya alasan yang paling bisa saya terima adalah hal ini. Alasan kemanusiaan.
Kurang lebih satu tahun lalu saya menghentikan majalah gratis dari SimpatiZone. Alasan yang saya buat waktu itu adalah ringan. Gak ada duwit. Maklum saja, setiap paket kiriman yang saya terima berkisar 1000 s/d 5000 kami harus membayar. ‘Hlo? itu kan majalah gratis?! ” tapi ternyata saya harus membayar lebih dari harga dasar bahkan dari materi barang tersebut. “Lak yo mending beli koran di tepi jalan yang lebih informatif dan pariatip dari barang tersebut” Meski saya akui saya suka yang gratisan :D, semisal majalah dari SimpatiZone.
Alasan itu pula yang beberapa lama ‘membungkam’ saya untuk tidak ‘menggugat’ penarikan ini. Sampai dengan dua bulan yang lali charger Hp favorite Siemens M-35 saya ketinggalan di Surabaya saat berkunjung ke rumah mertua. Atas inisiatif bersama akhirnya charger tersebut dikirim lewat jasa POS. Empat hari kemudian, setelah pengiriman, charger saya datang dan apesnya saya lagi b-o-k-e-k. Serta merta barang saya terima, P Pos bilang, “tiga ribu, mas!” Weks!! Barang sekecil ini?! Mahal Amir? Diluar jam dinas, alasan yang dikemukakan sama beliau. Benarkah? Enggak, kok! saya ingat betul waktu itu adalah hari dan jam efektif dinas.
Padahal harga Siemens yang saya punya tersebut di pasaran tidak sampai 100 ribu, kini.
Ternyata alasan B-O-K-E-K bisa memaksa untuk berbuat lebih dari kemampuan keberanian, nurani dan akal yang dipunya. Dia adalah alibi paling logis untuk menyoal dan menyikapi masalah. Dan hari ini terjadi lagi seperti peristiwa dua bulan lalu. Bedanya kali ini istri saya saja yang mengalami. Karena saya ada keperluan ke Surabaya. Ceritanya, ibu saya yang berada di Serang Banten berencana pulang dan akhirnya barang-barang dikirim terlebih dulu lewat jasa Pos.
Tibalah barang-barang itu dengan aman, selamat sentausa dihadapan rumah, seraya P Pos bilang, “lima ribu, mbak!”
+ (karena anggaran belanja negara menipis) istriku bilang, kok mahal amat pak? kan begini ini (paketan) disana (pengirim) sudah membayar?
- P Pos : Buat ganti bensin mbak!
+ Istrk : Untuk ganti bensin kan seharusnya ditanggung sama PT POS
- P Pos : Karena pegawainya ini bukan pegawai negeri mbak
( Kalo bukan pegawai negeri apakah mereka tidak digaji oleh PT POS, bukannya mereka mendapatkan gaji untuk pekerjaan yang dikerjakan, lantas mengapa mereka masih menarif penerima surat ataupun paketan )
Ada yang bisa meluruskan mengenai hal ini? Sekarang saya bisa berpikir lebih manusiawi daripada ‘manusia’ bahwa banyak pengguna jasa layanan PT. POS yang sedang dan lebih B-O-K-E-K dari saya.
Akhirnya, mari sejenak menyimak Video berikut. Profesionalisme kerja, ketepatan, kecepatan, tanggung jawab. Salam buat Mr. Zhang yang sudah merasakan kepuasan jasa pengiriman.

saya tidak pernah memberi apapun tiap nerima paket baik dari pos, tiki, dan jasa kurir lainnya. tidak ada yang pernah minta :)