Written by el masarif on January 31, 2009 – 12:05 pm
Weelah.. kok terlambat banget, mas! Kenapa baru sekarang, mengintip? Hasil penghitungan akhir KPU sudah di umumkan beberapa hari yang lalu. Menurut penghitungan manual KPU suara Karsa adalah … sedangkan suara KaJi adalah … selisih 60.000 pemilih. Artinya hanya selisih kurang dari 1 %. Meski kurang dari 1% sudah mampu mengantar satu calon ke kursi Gubernur, orang nomor 1 di Jawa Timur. Tapi bukankah menurut penghitungan cepat yang dilakukan LSI suara Kaji unggul dibanding karsa? Inikah awal timbulnya masalah, hingga masuk ke Mahkamah Konstitusi?
Kenapa harus menjadi masalah? Diantara dua lembaga ini mana yang lebih mempunyai validasi di mata hukum? KPU atau lembaga Quick Count? Semua tau KPU adalah lembaga penyelenggara pemilu. Sistem yang berjalan dalam rangka berlangsungnya Pilkada di Jawa Timur sumbernya ya KPU. Tentu saja sebagai perimbangan hadir pula Panwaslu yang mengawasi jalannya proses pemilihan. Semoga panwas berperan sesuai tugas dan fungsi yang dibebankan.
Satu hari pemilu berlangsung, Lembaga penghitungan cepat sudah bisa memberi prediksi hasil. Lembaga ini mempunyai system yang ‘ajaib’ dalam penghitungan cepat. Akurasi hampir mendekati 100% dan hanya menyisakan margin error 1% saja. Lembaga ini independent, diluar sistem Pemilu. Kehadirannya menjadi penyemarak, menghias media cetak maupun elektronik. Tanpanya show must go on.
Kalau demikian KPU dong yang mesti di ennut, bukkannya lembaga penyelenggara penghitungan cepet! Toch angka-angkanya masih di dalam batas toleransi margin error, yaitu wilayah 1%. Itu hal biasa kan? Amerika yang ngebom sasaran dengan selisih 0,sekian saja bisa meleset ke pemukiman penduduk. Apalagi selisih angka ini?
Muassss!!!! Siapa yang mempermasalahkan KPU dan LSI?! Sampean iki ksusu! Terburu-buru menyimpulkan….
Tidak masalah KPU akhirnya memenangkan satu calon tertentu. Yang menjadi masalah berikutnya adalah adanya indikasi ‘kecurangan’ dari salah satu calon Gubernur sehingga dia bisa menutup dan menambal ruang selisih dan akhirnya menjadi unggul.
” Ow…, ” Selaku orang wutun saya hanya bilang demikian, sambil berharap semoga masalah segera usai dan siapapun yang menjadi Gubernur bakal membuat Jawa Timur semakin maju.
